Review Film Perayaan Mati Rasa (2025)

 

Review Film Perayaan Mati Rasa (2025)

Perayaan Mati Rasa | 2025 | 2h 5m
Genre : Drama/Music| Negara: Indonesia
Director: Umay Shahab, Reka Wijaya | Writers: Junisya Aurelita, Santy Diliana, Yusuf Jacka
Pemeran: Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan, Umay Shahab, Unique Priscilla
IMDB: 6.9
My Rate : 9/10

Ian merasa tersisihkan dari keluarganya karena dirinya merasa belum sukses seperti adiknya. Namun, kenyataannya Ian yang menarik diri karena ekspektasi atas dirinya belum juga tercapai. Hingga kematian mengingatkannya kembali tentang makna keluarga.

Peringatan:

Terdapat adegan kekerasan, kata - kata kasar, alkohol, dan rokok

 

Sinopsis :

Ian (Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan) sedang berjuang untuk mewujudkan impiannya sebagai seorang pemain band. Namun, beban berat dirasakannya atas ekspektasi keluarga terhadap dirinya. Terlebih saat adiknya, Uta (Umay Shahab), dirasa lebih sukses dibandingkan Ian. Ian juga merasa tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ayahnya yang seorang pelaut dan jarang berada di rumah.

Ian pun membuat jarak dengan keluarganya dan sibuk bersama dengan teman - temannya untuk mencari peluang audisi dan manggung. Meski masa depan yang tidak jelas mengenai band mereka menjadi ketakutan dan kekhwatiran tersendiri bagi mereka. Sebab penampilan mereka belum pernah benar - benar dikatakan berhasil. Hingga suatu malam terjadi keributan saat mereka tampil. Sialnya, malam itu ayah Ian datang untuk menyaksikan Ian bersama dengan Bandnya.

Ayahnya mencoba untuk menenangkan Ian dengan membawanya keluar dari keributan dan menasehatinya. Namun, Ian menganggap bahwa ayahnya hanya menekannya dan tidak benar - benar paham dengan apa yang rasakannya. Hal itu membuat Ian makin tertekan. Perang dingin pun terjadi di antara mereka, walau ayahnya telah meminta maaf melalui pesan suara. Pertengkaran yang belum terpecahkan harus dikesampingkan karena ayahnya yang harus kembali ke laut.


Perayaan Mati Rasa (2025)

Saat Ian merasa telah menemukan secercah cahaya, ternyata itu tidak bertahan lama. Audisi mereka kembali gagal, Ibunya tiba - tiba terkena serangan jantung dan harus dioperasi, serta dirinya harus mendengar berita mengejutkan lainnya dimana kapal yang di nahkodai ayahnya tenggelam karena badai. Permasalahan demi permasalahan yang menghantamnya membuat Ian kehilangan kekuatan. Ian tetap berusaha untuk tampak tegar dan kuat dihadapan keluarganya meski dirinya hancur.

Kondisi ibunya yang masih dalam masa pemulihan, mengharuskan Ian dan Uta menyembunyikan berita kematian ayah mereka. Mereka pun saling tolong untuk menjaga rahasia tersebut. Hubungan antara keduanya pun mulai membaik. Namun, badai lain kembali datang dan menggoyahkan mereka.

Akan mereka berhasil melewati masalah yang terjadi?

 
Ulasan :

Perayaan Mati Rasa merupakan film ketiga yang disutradarai oleh Umay Shahab, menggaet beberapa pemain senior yang aktingnya pasti tidak diragukan lagi. Terlihat dengan kualitas film yang amat memukau dan chemistry antar pemain yang begitu terlihat. Durasi yang panjang tidak membuat film ini terasa membosankan. Emosi dari penonton berhasil diporak-poranda selama menonton film ini. Air mata pastinya tumpah ruah saat menonton, tetapi terdapat beberapa adegan yang juga cukup menghibur dan menimbulkan gelak tawa.

Cerita disajikan dengan amat sistematis. Penggunaan istilah kedalaman lautan sebagai analogi dari perasaan tokoh utama merupakan cara yang cukup unik tetapi juga berkesan untuk digunakan. Dimana hal ini menggambarkan tekanan yang dirasakannya hingga titik Ian merelakan semuanya. Pemilihan kata dan penggunaan bahasa dalam dialog yang digunakan menambah estetika dari film ini.

Lagu menjadi komponen yang cukup penting dalam keseluruhan film. Penonton disuguhi penampilan dan lagu - lagu keren yang dibawakan oleh Ian dan Bandnya, Midnight Serenade. Bahkan tidak main - main, lagu - lagu mereka sampai di unggah ke Spotify, disini terlihat bahwa mereka mengerjakan projek tersebut bukan hanya untuk main - main. Keseriusan ditunjukkan untuk memberikan kualitas yang terbaik dan tidak dikerjakan secara asal-asalan.

Selain itu, lagu bukan hanya digunakan sebagai latar belakang dari adegan. Melainkan menjadi satu kesatuan dengan adegan tersebut. Pemilihan lagu yang pas dan sesuai dengan tiap adegan mewakili perasaan dari para karakter yang dimainkannya. Pastinya membuat penonton jadi ikut terhanyut dengan tiap perasaan karakter.

Pergerakan kamera dilakukan dengan amat baik. Beberapa adegan menggunakan teknik close-up untuk memperlihatkan detail ekspresi dari pemain. Sehingga berhasil mempotray dengan baik tiap adegannya. Komposisi warna yang konsisten juga membuat sebuah sajian yang estetik dan artistik.  Semuanya tergabung menjadi suatu kombinasi yang sempurna.

Akting dari para pemain juga amat baik baik tokoh utama atau pendukung. Terutama akting Iqbaal yang amat memukau dan memberikan kesan mendalam di tiap transisi emosinya. Dirinya dapat menunjukkan rasa sakit yang dirasakan Ian dengan cara yang tidak berlebihan dan tetap menyanyat hati. Terutama saat dirinya menangis saat menonton video rekaman ayahnya. Adegan tersebut benar - benar menguras air mata atau saat Ian berada di koridor rumah sakit setelah mendengar kabar kematian ayahnya.

Mungkin beberapa orang memberikan ulasan yang mengatakan bahwa 'terlalu banyak yang ingin ditampilkan dalam film, sehingga sedikit mengaburkan cerita'. Namun, hal itu malah menjadi terasa nyata, karena hidup kadang memang seperti itu. Masalah bertubi - tubi muncul dan membuat kita menjadi rapuh dan tidak tahu harus menyelesaikan yang mana terlebih dahulu.

Akhir cerita mengingatkan kita bahwa melepas seseorang untuk selamanya pasti akan terjadi cepat atau lambat di waktu yang tidak kita duga. Proses menerima kepergiannya bukan perkara gampang, tetapi mengikhlaskan dan kembali menjalani hidup dengan baik merupakan bentuk penghormatan kita kepada mereka. Beberapa kata persembahan yang ditampilkan setelah film usai dan diiringi lagu terakhir ayah mereka menjadi hal yang juga menambah makna.

Secara keseluruhan, film ini benar - benar menjadi film yang menyentuh hati dan cocok untuk ditonton bersama dengan keluarga.

 
Adegan yang mengesankan:  


Perayaan Mati Rasa (2025)

Ian melihat kembali video - video kenangan yang dibuat oleh ayahnya. Dirinya pun menyadari bahwa selama ini banyak hal telah disalahartikan olehnya dan membuat dirinya tidak bisa melihat cinta yang diberikan keluarganya kepadanya. Dalam adegan ini, kita dapat melihat kepedihan dan kesedihan yang mendalam yang dirasakan Ian dari ekspresi dan air mata yang tumpah. Penonton pun banyak yang merasa terenyuh dan tersentuh melalui adegan ini.

 

Dialog mengesankan:

"Melepaskan adalah bentuk paling tulus dari mencintai."

 

Ending:

Happy but Sad Ending

 
Rekomendasi:

Must Watch

 

(Aluna)

 


Posting Komentar

0 Komentar